Pembuka
Apa yang Belum Kamu Ketahui Soal Rezeki?
Bagian 1 dari 11
Kamu pernah punya teman yang hidupnya terlihat biasa-biasa saja dari luar?
Pekerjaan sederhana. Penghasilan tidak besar-besar amat. Doanya pun biasa saja — tidak lebih khusyuk, tidak lebih panjang dari orang kebanyakan. Tapi kalau kamu perhatikan lebih dekat, hidupnya terasa cukup terus. Ada saja jalan keluarnya. Ada saja yang datang tepat waktu. Dia tidak terlihat panik, tidak terlihat kekurangan, tidak terlihat seperti orang yang hidupnya penuh ketegangan soal uang. Rezekinya terasa luar biasa lapang, padahal usahanya kelihatan biasa saja.
Sementara mungkin kamu justru yang sebaliknya. Kamu kerja keras. Sungguh-sungguh. Doamu tidak pernah putus, usahamu tidak pernah kendur. Tapi hasilnya selalu terasa kurang. Setiap kali ada sedikit lebih, ada saja yang menghabiskannya. Hidupmu penuh hitung-hitungan: ini cukup tidak ya? bulan depan gimana? kalau ini terjadi bagaimana?
Apa bedanya?
Pertanyaan itu yang mengganggu. Dan kalau kita jujur, mungkin beginilah bunyinya:
Ada yang doanya biasa saja tapi rezekinya luar biasa. Kamu yang sungguh-sungguh justru masih merasa kurang. Apa yang kamu belum tahu?
Seluruh buku ini ditulis untuk menjawab satu pertanyaan itu.
Kamu mungkin pernah berpikir: "Mungkin memang nasibnya." Atau: "Mungkin doanya lebih tulus." Atau: "Mungkin dia lebih pintar mengatur uang."
Mungkin. Tapi ada kemungkinan lain yang jarang dibicarakan.
Ada sesuatu yang berbeda dari cara mereka menerima rezeki. Bukan dari cara mereka mencarinya. Dari cara mereka menampungnya.
Buku ini tidak akan menyuruhmu sekadar bekerja lebih keras dengan cara yang sama. Kamu mungkin sudah cukup keras bekerja. Yang kamu butuhkan bukan jam yang lebih banyak, tapi diri yang lebih mampu — dan lebih bermanfaat bagi banyak orang.
Selama ini banyak orang menunggu rezeki seperti menunggu hujan. Berdoa, lalu berharap rezeki turun dari langit dengan sendirinya. Doa itu penting. Tapi doa tanpa diri yang bertumbuh sama seperti membawa ember kecil ke pinggir danau. Berapa pun yang kamu minta, yang sanggup kamu bawa pulang tetap segitu.
Buku ini akan menunjukkan sesuatu yang berbeda: ukuran wadah yang kamu bawa setiap hari ke pinggir danau yang sudah menyediakan segalanya untukmu. Dan wadah itu adalah dirimu sendiri. Kemampuanmu. Sesuatu yang bisa kamu perbesar — sampai pada akhirnya kamu tak lagi menimba sendiri, tapi membangun agar rezeki itu mengalir dengan sendirinya.